SAMOSIR DAN TANGKAHAN
POTENSI BESAR YANG
RINDU WISMAN
Oleh,
Muhammad Ali, MLS
Pulau
Samosir dan Tangkahan adalah dua tempat yang sangat indah tetapi kurang di
kunjungi wisatawan mancanegara (wisman). Jauhnya objek-objek ini dari Bandara
kemungkinan penyebab utama masalah ini. Tetapi ada masalah lain yang tidak
kalah penting dan perlu mendapat perhatian pemerintah.
Suara serine dari sebuah Ferry yang menderu-deru
sebagai pertanda memanggil penumpang dari Pelabuhan Tiga Raja untuk menuju
sebuah pulau yang sangat tenang, damai dan bersejarah. Air danau yang demikian
jernih diterpa sinar surya adalah suatu perpaduan serasi untuk menunjukkan pada
manusia alangkah sempurnanya ciptaan yang maha kuasa. Ikan dengan damainya menari-nari mempertontonkan pada penghuni
kapal “kami adalah penghuni danau sejati”.
Ketika Ferry merapat di mulut
dermaga Tomok, secara tidak sadar kaki kita telah berada di luar Pulau
Sumatera. Pakaian bercorak khas Batak
Toba dan ukiran banyak dijajakan di kedai-kedai sekitar pasar Tomok. Terasa
keramahan penduduk setempat menawarkan jualan mereka. Umumnya wisatawan mengagumi
Pulau Samosir ini, tapi mereka bertanya-tanya
mengapa tempat yang demikian indah, nyaman tidak berpolusi kok pengunjungnya
sepi? Inilah masalah besar yang dihadapi Pulau Samosir yang dicanangkan tahun
2010 sebagai Kabupaten Pariwisata. Beberapa manager hotel berbintang yang di
interview mengatakan sangat berat untuk bertahan karena tamu sepi, yang ada wisatawan lokal ataupun
wisatawan dari negara tetangga Malaysia dan Singapura.
Sementara Tangkahan yang letaknya
bertetangga dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ±105 km dari kota Medan atau 3-4 jam
perjalanan dengan bus. “Pembangunan Semesta” adalah satu-satunya bus umum yang
mengambil rute Medan – Tangkahan dengan
kebanyakan kondisi bus kurang nyaman di dalamnya, dipadu dengan sangat tidak
nyamannya kondisi jalan. Pemerintah sebenarnya masih kurang memperhatikan jalan
menuju Tangkahan, pada hal kalau kita
baca di internet daerah ini sudah terpromosi dengan baik.
Kawasan Ekowisata ini
berbatasan dengan Desa Namosialang dan Desa Sei Serdang Kecamatan Batang
Serangan Kabupaten Langkat dengan
panorama hutan TNGL dipadu dengan Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan yang
jernih berpantaikan bebatuan yang mengawal sungai dengan kokohnya, cukup memanjakan
pengunjung untuk berjalan santai di atas bebatuan indah, bersih tanpa sampah
plastik sambil sesekali bisa menyeburkan badan ke sungai ini. Salah satu tempat yang cukup strategis bagi
pencinta sungai terdapat perpaduan air dingin dan air panas. Bagi yang merasa
dingin bisa memanjakan tubuh, menghangatkannnya di selah-selah bebatuan yang
mengeluarkan air hangat; suatu kombinasi yang sukar ditemui di daerah lain.

Bagi yang berminat terapi berjalan tanpa alas kaki akan bisa merasakan nikmatnya. Satu-satunya kawasan wisata yang tidak ditemui sampah plastik (hebat cukup hebat, salut cukup salut). Tangkahan boleh di jadikan acuan studi banding para pelaku wisata. Terbentuknya Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) sangatlah membantu sistem managemen terpadu yang dilakukan melalui satu pintu sehingga tidak ada lagi tarik menarik pengunjung antar guide ataupun homestay, semuanya dilakukan melalui Tangkahan Visitor Center. Suatu sistem yang sangat luar biasa dan dipatuhi oleh setiap stakeholders. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan di kawasan ini diantaranya : Jelajah Hutan, dimana pengunjung dapat mempelajari flora dan fauna hutan hujan sambil melakukan treking kadang mendaki, kadang menurun sesuai kontur alam TNKS dan tak jarang melintasi sungai yang airnya bak cermin. Perjalanan treking dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh dan usia, semua telah disiapkan oleh pengelola demi memuaskan pengunjung. Aktivitas lain adalah Jelajah Sungai dengan benen sambil menikmati monyet ekor panjang yang berayun-ayun sambil makan buah alam. Tak kalah menarik beraneka burung tebar pesona seolah tak mau kalah dengan pesaingnya sesama penghuni rimba. Wisata yang paling unik adalah wisata memandikan gajah. Pengunjung dengan didampingi oleh pawang bisa bermanja dengan gajah sambil menggosok-gosok badan sang raksasa ini. Unfogettable memories. Banyak lagi yang dapat dinikmati seperti berkemah, petualangan menelusuri gua dan lainnya.
Bagi yang berminat terapi berjalan tanpa alas kaki akan bisa merasakan nikmatnya. Satu-satunya kawasan wisata yang tidak ditemui sampah plastik (hebat cukup hebat, salut cukup salut). Tangkahan boleh di jadikan acuan studi banding para pelaku wisata. Terbentuknya Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) sangatlah membantu sistem managemen terpadu yang dilakukan melalui satu pintu sehingga tidak ada lagi tarik menarik pengunjung antar guide ataupun homestay, semuanya dilakukan melalui Tangkahan Visitor Center. Suatu sistem yang sangat luar biasa dan dipatuhi oleh setiap stakeholders. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan di kawasan ini diantaranya : Jelajah Hutan, dimana pengunjung dapat mempelajari flora dan fauna hutan hujan sambil melakukan treking kadang mendaki, kadang menurun sesuai kontur alam TNKS dan tak jarang melintasi sungai yang airnya bak cermin. Perjalanan treking dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh dan usia, semua telah disiapkan oleh pengelola demi memuaskan pengunjung. Aktivitas lain adalah Jelajah Sungai dengan benen sambil menikmati monyet ekor panjang yang berayun-ayun sambil makan buah alam. Tak kalah menarik beraneka burung tebar pesona seolah tak mau kalah dengan pesaingnya sesama penghuni rimba. Wisata yang paling unik adalah wisata memandikan gajah. Pengunjung dengan didampingi oleh pawang bisa bermanja dengan gajah sambil menggosok-gosok badan sang raksasa ini. Unfogettable memories. Banyak lagi yang dapat dinikmati seperti berkemah, petualangan menelusuri gua dan lainnya.
Sangat disayangkan
potensi yang demikian besar dan bervariasi juga managjemen yang demikan
sempurna tidak didukung oleh program-program pemerintah untuk memperbaiki jalan
ataupun fasilitas lain, seperti mengadakan listrik PLN di Kawasan Ekowisata
Tangkahan ini. Sampai-sampai ada artikel
yang di muat di Inside Sumatra Tourism
and Lifestyle Magazine Vol.14 Maret 2006, tulisan Tikwan Raya Siregar, berjudul
: Negara kecil berbendera merah putih (Returning
to Tangkahan a small country under the red-white flag). Sedih sangat sedih,
ketika penulis mengunjungi objek ini sambil kelakar meminta dua murid SD untuk mengalunkan
lagu Indonesia Raya, mereka bisa melakukannya. Jadi Tangkahan is still Indonesia.
Bukti kejayaan: Pada tahun 2004 Tangkahan di anugrahi penghargaan
“Inovasi Pariwisata Indonesia” oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI.
Kurangnya wisatawan Mancanegara
berkunjung kemungkinan lamanya jarak tempuh dan buruknya kondisi jalan menuju destinasi.
Sehingga penumpang bus Pembangunan Semesta layaknya dokter akan mengoperasi
pasien, menutup mulut dan hidung menghindari debu yang demikian mengganas.
Secara keseluruhan
bahwa Samosir dan Tangkahan sama-sama di tinggalkan wisman, pemilik hotel
bersedih, pemilik restauran bersendu, para guide
duduk termenung, yang lalu lalang hanya
pelancong lokal. Apakah mungkin di Pulau Samosir di bangun bandara? Pertanyaan
yang sangat sukar di jawab. Aksesibilitas adalah faktor utama promosi
pariwisata. Lihat Bali dan Jogjakarta, wisatawan sampai ke destinasi tanpa
harus terlebih dahulu mengeluh.
Samosir dan Tangkahan sama wajib di kunjungi karena punya ke unikan masing-masing
BalasHapus