BERWISATA DAN SEMINAR
DI ATAS KAPAL
Pengalaman yang tidak dapat terlupakan dan sangat langka
adalah mengikuti seminar sambil berwisata diatas kapal. Keindahan pemandangan
dan laut nan biru akan membuka cakrawala perpikir lebih jernih sejernih air
laut yang begitu indah mempesona.
Berwisata dan sekaligus seminar dilakukan dalam perjalanan menuju Corregidor
Island Pilipina. Tempat ini adalah tempat bersejarah yang boleh dikata
”Pulau yang menjadi saksi” pertempuran dahsyat pada Perang Dunia II. Corregidor
Island terletak pada pintu masuk Manila
Bay sebelah selatan pulau Luzon. Pulau ini sekitar 48 Km dari Kota Manila
Ibu kota Pilipina. Manila menjadi kota yang sangat penting pada masa penjajahan
Spanyol, Amerika, Jepang dan sampai saat ini karena letaknya yang strategis dan
mempunyi pelabuhan laut yang cukup baik.
Saat ini Manila menjadi Kota Metropolitan dan pusat bisnis di Pilipina.
Ketika berkecamuknya Perang Dunia II, medan tempur yang termasuk paling dahsyat
itu adalah di Corregidor Island. Tentara Jepang membombardir Pulau ini sampai
hampir tinggal puing-puing berserakan. Demikian banyaknya tentara Pilipina,
Amerika dan Jepang jadi korban di Pulau yang hanya 900 ha ini. Apa yang
diperjuangkan? ”Kekuasaan dan Harga Diri
Bangsa”
Corregidor Island menjadi tujuan seminar
yang dilakukan di atas Kapal Ferry ( kapal penumpang). Peserta diberangkatkan
dari Pelabuhan tua Manila yang tidak jauh dari komplek pusat kebudayaan
Pilipina di Roxas Boulevard. Kapal kecil ini bermuatan ± 120 penumpang. Jumlah
ini sudah cukup ideal untuk melakukan wisata dan berseminar ria di atas kapal. Seminar bertajuk ” Mengenang Perang Dunia II” To Memorize
the World War II”. Peserta yang mengikuti seminar ini adalah para
pustakawan yang setiap hari bergelut dengan buku duduk di perpustakaan melayani
pengguna dari pagi hingga sore. Sehingga
seminar seperti ini adalah suatu kesempatan emas (golden chance) bagi pustakawan untuk bersatu dengan alam dan
membuang kejenuhan jauh ke dasar laut. Puing-puing, semak-belukar, laut dan
reruntuhan bangunan yang masih tetap dilestarikan oleh pemerintah Pilipina
menjadi pustaka hidup bagi pengunjung.
Dengan melihat suasa di Corregidor Island ini pengunjung bisa menjadi sadar
betapa sukarnya untuk lepas dari penjajah. Pada seminar ini para peserta cukup
santai, berkelakar dengan pemakalah dan tidak jarang suasana menjadi sedikit
riuh ketika ikan lumba-lumba melompat menunjukkan tubuhnya di permukaan air
seolah-olah pamer tubuh yang mulus dan indah. Tidak jarang
Ferry harus oleng kanan kiri membuat peserta yang sedikit jail saling senggol
sambil tersenyum. Benar-benar fresh……
perkataan inilah yang selalu terdengar dari para peserta. Terlebih-lebih bagi
mereka yang jarang melakukan perjalanan melalui laut.
Perjalanan ini memakan
waktu lebih dari satu jam karena berjarak 48 km sebelah barat Manila. Tapi
untuk tujuan seminar seperti ini kapal
diputar agar sedikit lama di laut dan pemateri bisa sedikit leluasa
memaparkan makalah mereka. Sampai
ditempat tujuan, seminar di skor. Materi di kapal sementara dilupakan, karena seminar hanya
di lakukan di atas kapal... berarti di darat murni bertujuan wisata. Pemakalah
sudah bersatu dengan peserta dan sekarang semua sudah menjadi turis. Pada saat
seperti ini Guide memegang kendali
dan bercerita tentang Perang Dunia II dan puing-puing yang yang masih di
biarkan hancur dan berlobang-lobang hasil tembakan senjata berat para tentara
pejuang masih tegar terlihat.
Tempat
wisata yang berada di Corregidor Island ini cukup banyak diantaranya
Malinta
Tunnel. Malinta Tunnel mulai
dibangun pada tahun 1922 dan selesai tahun 1932. Panjang terowongan ini ± 278 meter, lebar 8 meter dan tinggi 6 meter.
Terowongan ini adalah tempat yang sangat bersejarah karena pernah
menjadi pusat pemerintahan sementara Pilipina yang kedua kalinya oleh Manuel L. Quezon dan Sergio Osmena yang masing-masing memproklamirkan menjadi Presiden dan
Wakil Presiden Pilipina Commonwealth pada tahun 1941. Jendral Douglas
MacArthur juga menggunakan Malinta Tunnel
sebagai markas sekutu hingga 1942. Tempat
ini juga pernah dijadikan Stasiun Radio ( Voice
of Freedom) oleh tentara Amerika. Sekarang Malinta Tunnel digunakan untuk ruang audio-visual yang dirancang
oleh artis ternama Pilipina Lamberto V. Avellana. Tempat ini sangat menakjubkan
karena kalau kita masuk kedalamnya seolah-olah kita sedang ditembak dari
berbagai penjuru dengan suara yang sangat menyeramkan. Karena itu sebelum masuk
ke dalam Tunnel, Tour
Guide mengumumkan bagi yang berpenyakit jantung dilarang turut masuk ke dalam.

Puing-puing peninggalan pertempuran antara sekutu dan Jepang masih terpampang. Sehingga kita bisa melihat betapa hebatnya pertempuran dan betapa banyak nyawa melayang demi mempertahankan negara yang mereka cintai. Tapi sayang dibanyak negara para pahlawan kurang dihormati bahkan generasi penerus yang menikmati kemerdekaan cenderung menghancurkan negara dengan melakukan korupsi besar-besaran demi memuaskan ego sendiri. Untuk menyadarkan para petinggi negeri, sebaiknya studi banding diarahkan ketempat seperti ini agar mereka bisa mengerti bagaimana para pendiri suatu negeri berjuang mempertahankan negaranya agar tidak terjajah.
Para wisatawan yang baru
turun ke Corregidor
Island akan di bawa
dengan menggunakan kenderaan terbuka yang sangat nyaman dan menyenangkan.
Mobil keperesidenan
Pilipina dan Mobil yang pernah digunakan Jend. MacArthur masih bisa disaksikan
di pulau ini. Masih utuh dan sangat terawat. Demikian juga ada koleksi
kendaraan Roda 3 (Becak) yang mirip dengan becak Siantar. Kendaraan ini adalah
kendaraan perang yang digunakan tentara sekutu pada Perang Dunia II.
Pemerintah Amerika membangun tempat ini adalah untuk mengenang dan sebagai
penghormatan kepada para tentara Pilipina dan Amerika yang terbunuh di
Corregidor Island. Tempat
ini selesai dibangun tahun 1968 dan menelan biaya tiga juta Dollar Amerika. Tidak
jauh dari tempat ini juga dibangun patung Jendral Douglas MacArthur yang sangat
megah dan cukup kokoh sekokoh Sang Jendral. Tidak mau kalah, kemudian Jepang
juga membangun taman untuk mengenang serdadu mereka yang gugur dalam
pertempuran dahsyat pada Perang Dunia II. Sehingga para pejarah dan turis
mengetahui pertempuran dahsyat telah terjadi di Pulau ini. Pulau ini
menjadi sasaran karena letaknya yang strategis terhadap Manila.
Dalam perjalanan pulang, seminar dilanjutkan lagi dengan suasana lebih
santai karena peserta dan pemakalah sepertinya sudah lelah mondar mandir di
darat. Sehingga pembacaan rangkuman pun
segera dilakukan di selah-selah terngantuk-ngantuknya peserta yang diterpa
angin sepoi samudra pasifik. Untunglah Pramugari diatas kapal ini cukup lincah
dan anggun-anggun sehingga kantuk peserta dapat sedikit terobati.
Sekedar Saran yang Kurang Populer
Sumatera Utara mempunyai Pulau
Samosir yang tiada kalah... indahnya. Walaupun tidak mempunyai sejarah perang
seperti Corregidor, tetapi kebudayaan dan sejarah bangsa Batak bisa di jadikan
objek wisata menarik. Seandainya kita jeli melihat peluang wisata.... maka kita
bisa merencanakan Seminar Lingkunagn Hidup di atas kapal pesiar.... Danau Toba.
Seminar sambil berkeliling Danau Toba. Langsung melihat alam dari atas kapal.
Acara yang demikian pasti akan menarik para ilmuan. Semoga gagasan ini boleh
menjadi acuan bagi pengelola wisata dan para ilmuan untuk berseminar ria dan
mengetahui alam nyata.




Tempat bersejarah yang tidak dapat terlupakan
BalasHapus