Selasa, 03 Desember 2013



BERWISATA DI PERPUSTAKAAN ALAM

 TAMAN EDEN 100

Oleh: Muhammad Ali, MLS

Kepuasan wisatawan berkunjung ke tempat wisata diantaranya ditentukan oleh udara yang segar, keamanan, keindahan juga lokasi yang mudah terjangkau. Kriteria itu sudah dipenuhi oleh Taman Eden 100. Taman ini adalah hasil tangan dingin Bung Marandus Sirait Sang Penerima Hadiah Kalpataru Bidang Perintis Lingkungan tahun 2005 dan Wahana Lestari tahun 2010.

Presiden kita yang pertama ”Bung Karno” pernah bilang “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia”. Bung Marandus pun seharusnya bisa bilang berikan aku sepuluh pemuda yang punya komitmen bersama seperti aku, akan ku lestarikan Danau Toba.” Pujian tidak perlu bagi Bung Marandus tapi bukti nyata telah dilakukan dengan menghijaukan dan menjadikan lahan gundul menjadi sebuah taman nan indah dan lengkap. Tangan dingin Penerima Kalpataru ini  perlu mendapat acungan jempol. 

TAMAN EDEN 100
Menurut I Nyoman Sujata Kepala Badan Lingkungan Hidup Prop. Bali bahwa Pulau Bali mendapat predikat kualitas lingkungan terbaik di Indoesia. Yaitu mencapai 99.65 persen. Melampaui sasaran rata-rata Nasional yaitu 66 persen (Harian Analisa, 2012). Untuk itu mari kita tiru cara Pulau Bali menghadapi lingkungannya. Mari para orang bijak yang peduli lingkungan melakukan studi banding ke Pulau Bali, jangan ke Italy atau Turky. Karena kita bukan mau membangun menara Pizza atau Piramida.  Kalaulah ingin studi banding menghijaukan lingkungan,  Taman Eden 100 terbuka untuk siapapun yang ingin menimba ilmu. Ide dan cara  menanam pohon dan menjaga lingkungan perlu di contoh oleh siapa saja pencinta lingkungan karena akan menambah besar paru-paru dunia. Makin besar paru-paru akan makin lega kita bernafas.  


AIR TERJUN DI TAMAN EDEN 100
Taman Eden “100″ adalah sebuah Taman Wisata Alam, Taman Wisata Rohani dan Taman Pelestarian Lingkungan Hidup, juga suatu Perpustakaan Alam terindah untuk di kunjungi.  Taman ini  berada di Desa Lumban Rang – Sionggang Utara, Kec. Lumban Julu, Kab. Toba Samosir, Sumut, dengan ketinggian tempat antara 1.100 – 1.750 meter diatas permukaan laut. Letaknya sangat strategis di jalan lintas Sumatera tepatnya 17 km dari kota wisata Parapat. Tujuan diadakannya Taman Eden 100 ini adalah untuk melestarikan hutan di kawasan Danau Toba dan sekitarnya. Menurut pengelola Taman Eden 100 ”Marandus Sirait” bahwa penanam pohon  di Taman ini berasal dari bermacam-macam Suku Bangsa, Agama dan Golongan. Yang paling penting bagi pengelola adalah menghijukan taman ini. Menurut penulis kerja keras penggagas taman ini  sangatlah positif. Pengharapan selanjutnya adalah pemilik lahan atau lahan marga mau meniru cara kerja sang penerima  hadiah KALPATARU ini.

          Pemikiran Awal Pembentukan Taman Eden 100
Marandus Sirait, seorang guru musik di kota Medan yang telah memiliki alat-alat musik lumayan lengkap dan sudah barang tentu mempunyai murid-murid yang cukup menghibur dan membuat hidupnya bahagia. Peminat belajar musik biasanya dari golongan anak-anak yang orang tuanya memiliki kecukupan atau diatas sederhana. Karena untuk itu diperlukan biaya ekstra. Apalagi guru musik yang beroperasi di kota Medan yang termasuk sarangnya seniman. Tetapi itu
AIR  TERJUN DI TAMAN EDEN 100
semua tak membuatnya puas seutuhnya. Ketika dia pulang kampung melihat 40 hektar lahan keluarganya tandus, hatinya miris dan berpikir untuk apa saya hidup bergembira bermusik ria di kota Medan sementara lahan kampung ku tak di urus. Dengan sangat nekat..... dan boleh dikata rencana gila-gilaan (maaf bung Marandus). Alat-alat musik kesayangannya satu persatu berguguran menjadi rupiah demi membiayani dan membeli bibit pohon untuk di tanam di lahan marga ini. Pada awalnya tak kurang dari 100 jenis pohon produktif dia tanam, kemudian dia merenung dan membayangkan ”wah sorga ku akan tercipta”. Ini semua akan ku persembahkan bagi siapa saja yang akan menikmati sorgaku ini, memakan buahnya secara gratis, mandi di air terjun. Memanjakan diri di Sungai yang alangkah indahnya, tidak tercemar.  Kemudian dia menamakan sorga buatannya ini dengan nama TAMAN EDEN 100. Karena awal koleksi taman ini serba 100 yang terdiri dari Tanaman buah, tanaman hutan, Anggrek, dan lain sebagainya.  


TREKING MENUJU BUKIT MANJA

Aktivitas yang dapat dilakukan
Parapat sudah cukup dikenal dengan Danau Tobanya, seindah apapun kata dirangkai semanis apapun puisi dicipta  tak cukup untuk memuji Danau Toba. Tetapi ketika wisatawan ingin sesuatu variasi wisata demi melengkapi objek kunjungan maka jawabannya adalah Taman Eden 100.
Di Taman ini suasana Danau sama sekali hilang, hanya udara sejuk yang terbawa karena ketinggian tempat taman ini lebih tinggi dari Parapat. Menelusuri Taman Eden inci demi inci kita selalu ditakjubkan oleh pemandangan lain dari yang lain. Berbagai jenis pohon yang terjajar di pinggiran jalan setapak di taman ini, ditanam oleh pengunjung. Nama dan alamat pengunjung langsung dapat kita lihat  melalui plat nama yang sengaja di buat untuk menandakan pohon tanaman si Anu. Banyak artis ibu kota, pejabat, dan masyarakat turut berpartisipasi menyemarakkan tanaman di taman ini. Sistem adopsi penanaman pohon memang dikenakan biaya. Penanam pohon cukup membayar Rp.100.000 –  Rp.300.000 biaya itu digunakan untuk merawat pohon dan bila pohon mati akan diganti dengan bibit yang sama sehingga penanam tidak perlu ragu kalau-kalau pohon yang ditanam tidak tumbuh. Pengelolan Taman ini sangat perduli dengan tumbuhnya pepohonan di taman ini. Untuk masuk ke taman ini dipungut biaya Rp.5000/ orang, kalau yang masuk group harga bisa nego, karena pengelolan cukup pengertian dengan kantong pengunjung. Ketika penulis berkunjung ke taman ini ada tulisan yang cukup menarik perhatian ” Stroberry Petik sendiri” wah... bukan main riangnya hati. Udara segar, dipinggir sungai nan jernih, tidak jauh dari air terjun ada tawaran yang sangat menakjubkan. Makan buah gratis.

Makan bersama di Bukit Manja (Mengenang Teman yang hilang di Danau Toba)
Bagi menggemar anggrek, Taman Eden tidak kalah meriahnya. Taman Anggrek yang berada di sini mengoleksi
bermacam-macam anggrek yang berasal dari daerah setempat sehingga sebutan koleksi Anggrek Toba pun tercetus. Pengelola Taman secara khusus membangun area konservasi anggrek toba dengan label Orchid Park, termasuk salah satu taman konservasi anggrek hutan di Sumatera Utara.

  Air Terjun
Sekitar 15-20 menit berjalan kaki dari gerbang utama, para  pengunjung dapat menikmati air terjun bertingkat yang cukup jernih. Di sinilah semua kelelahan, stress dan kesibukan sehari-hari terasa fresh kembali, sepertinya  ini lah sorganya taman ini.

Trekking

Untuk melakukan trekking di Taman Eden cukup bervariasi dari mulai tingkat ringan sampai tingkat berat. Sebagai contoh Trekking ke ”Bukit Manja” memakan waktu dua setengah jam sekali jalan sehingga pengunjung harus berangkat pagi agar turun tidak kemalaman. Bersama rombongan wisatawan lokal penulis melalukan trekking yang cukup menggembirakan. Bagi pemula memang agak berat karena tanjakan yang harus didaki cukup melelahkan. Tetapi medannya tidak membahayakan sehingga pengunjung tidak perlu terlalu khawatir untuk melakukan trekking. Pengunjung berhadapan dengan sesuatu hal yang
sudah langka yaitu (plastik) dalam perjalanan trekking  yang begitu jauh tidak ditemukan sampah plastik atau bekas botol air mineral. Sementara ditempat wisata lain plastik dan bekas botol air mineral adalah pemandangan yang sudah biasa. Hal ini cukup menyejukkan hati inilah ekowisata yang sebenarnya. Ketika berbincang dengan yang punya taman kami cukup prihatin karena pohon ara atau pohon tin sumbangan dari Israel yang berada di taman ini dan sudah setinggi 1,5 meter  telah mati. Penyebab kematian belum diketahui, mungkin cuaca kurang sesuai atau terserang hama tanaman. Wah .... koleksi tanaman
yang cukup baik untuk suatu kegiatan ekowisata khususnya wisata edukasi. Mungkin inilah ECOLIBRARY atau Perpustakaan Alam yang seutuhnya. Penulis merasa cukup bangga karena punya cita-cita memadukan alam dan buku (live material dan dead material) bergabung jadi satu menjadi ”ECOLIBRARY”. Mudah-mudahan Taman Eden 100 bisa dijadikan ecolibrary bagi pencari informasi khususnya untuk peminat tanaman dan pengabdi lingkungan.
          Mari........nikmati keindahan alam dengan segala pesonanya, dan menghargai kerja keras penggagas TAMAN EDEN 100  yang sarat akan nilai fundamental. Horas
............................................”Selamat Berkunjung ”.................................


















SURGA EKOWISATA DI RANAH MINANG

SURGA EKOWISATA DI RANAH MINANG
Oleh,
 Muhammad Ali, MLS          
Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) terletak di empat propinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan, dengan luas 1.375.379,867 ha. Sebagian TNKS terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan dengan ibu Kabupaten “Painan”. Painan mempunyai segudang tempat ekowisata yang masih asri, kalau boleh saya katakan “PAINAN IS THE HIDDEN PARADISE EVER SEEN ” tapi sayang kurang dilirik wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Apa sebenarnya yang terjadi?

Potensi Ekowisata TNKS di Pesisir Selatan




Air Terjun Lumpo
      
Pada saat pertama kali diperkenalkan, ekowisata tidaklah begitu menarik perhatian para pelaku industri pariwisata. Sama halnya dengan layanan SMS (Short Message Service) yang pada awalnya juga kurang menarik minat para operator telepon seluler. Namun perlahan tapi pasti, seiring dengan meningkatnya pemakai telepon seluler maka SMS menjadi bisnis yang menguntungkan. Demikian juga halnya dengan ekowisata, saat ini telah mendapatkan tempat dalam industri pariwisata. (Purbo, 2008). Stigma di masyarakat bahwa pariwisata itu identik dengan 3-S (Sun, Sand, Sex) harus diubah. Tidak semua pariwisata itu sifatnya berfoya-foya dengan tidur di hotel berbintang. Contohnya Kawasan Ekowisata Tangkahan, Kabupaten Langkat Sumatera Utara
                                                                  
 dengan Cottage bambu, kayu, tepas dan penerangan lampu teplok setengah malam karena PLN belum masuk. Masyarakat hanya menghandalkan Jenset. Cottage dengan harga yang sangat terjangkau cukup diminati wisman dan wislok. Inilah yang perlu di bangun agar rasa menyatu dengan masyarakat lokal terhayati dan tidak membangun gap yang besar. Celah seperti inilah yang harus dioptimalkan melalui pengembangan ekowisata. Dalam tulisan ini akan di ekspos 5 objek ekowisata dan beberapa gambar objek lain yang sangat berpotensi untuk dikembangkan dan untuk lebih dipromosikan dalam negeri dan ke mancanegara.

1. Air Terjun Tembulun 

Sumber air dari air terjun ini digunakan untuk Perusahaan Air minum di Pesisir Selatan ini menunjukkan bahwa air nya sangat bersih dan jernih. Umumnya sumber air pada air terjun di Pesisir Selatan ini berasal dari hutan TNKS. Dalam perjalanan menuju Air terjun para wisatawan dapat menikmati buah durian yang sangat banyak tumbuh   di sekitar jalur trekking menuju air terjun. Tak kalah meriahnya adalah burung, tupai dan hewan pemakan buah saling bersahutan seolah takut jatah mereka di ambil manusia. Air terjun ini adalah salah satu yang paling banyak dikunjungi karena aksibilitas menuju ke objek hanya 3 km. dari kota Painan.

2. Batu Biduk 

Pohon Jambu dalam perjalanan ke Air Terjun Lumpo
Sesuai dengan namanya batu biduk ( batu yang berbentuk sampan) dengan air yang jernih dan bebatuan yang menonjol di sekitarnya dapat menambah keidahan alam dan sungai. Bebatuan sekitar sungai dapat menjadi tempat bersantai dan duduk wisatawan sambil menikmati hutan TNKS dan sungainya. Dalam perjalanan menunju objek ini belum tersedia fasilitas seperti shelter dan lainnya sehingga pengunjung terasa monoton dalam perjalanan tanpa ada tempat istirahat yang memadai. Walaupun demikian pengunjung senang ke tempat ini untuk berpiknik membawa keluarga sambil duduk-duduk bersantai di bebatuan dan mandi di air yang demikian sejuk. Objek ini layak untuk dikembangkan dengan tetap memegang teguh prinsip  ekowisata.

3. Pemandian Baringin Gadang 

Tidak jauh dari batu biduk dapat dijumpai pemandian yang lebih menarik dan agak dalam. Disini wisatawan harus melakukan treking selama 30 menit dengan medan yang landai untuk mendapatkan objek wisata (pemandian Baringin gadang). Tepatnya didekat pohon beringin besar pemandangannya sangat indah sehingga para wisatawan yang senang fotografi dapat mengabadikan pemandangan yang menakjubkan ini. Mengingat ada dua objek wisata pada satu jalan treking maka sangat mudah untuk kembangkan menjadi satu paket wisata. Biasanya wisatawan sangat tertarik untuk datang apabila pada satu lokasi terdapat lebih dari satu objek yang akan dilihat.    
4. Air Terjun Lumpo
Objek ekowisata  Air Terjun Lumpo (Lumpo Waterfall)  yang selama ini telah menjadi buah bibir masyarakat. Objek ini terletak di desa Lumpo Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan. Jarak dengan pantai pesisir selatan lebih kurang  11 Km. medan perbukitan curam dan terjal. Dalam perjalalanan menuju air terjun akan ditemui ladang tua dan hutan yang masih asli dan lebat, burung-burung

bersahutan seolah takut terusik oleh tingkah manusia yang biasa memburu. Bagi yang senang makan buah durian di sinilah tempatnya, karena pohon durian turut meramaikan pepohonan hutan yang rimbun. Tak jarang penduduk desa duduk termenung menunggu sang buah kesayangan jatuh dari pohon di taman nasional milik negara ini.  Dan buah-buah lain cukup banyak sehingga hewan pemakan buah seolah tak mampu menghabiskan makanan ini.  Hal ini dibuktikan saat perjalanan (survey) sangat banyak buah
Pohon Jambu Air Dalam Perjalanan Ke Air Terjun Lumpo
durian dan jambu air sedang matang-matangnya untuk siap di santap, sehingga perjalanan sangat menyenangkan dan tidaklah takut terasa lapar di hutan lebat ini. Air terjun lumpo ini cukup tinggi dan bertingkat. Untuk menuju objek ini para trekker di harapkan berangkat pagi agar dapat menikmati suasana air terjun sebelum sore hari. Perjalanan memakan waktu lebih kurang 4-5 jam sekali jalan sehingga para eco traveller diharapkan membawa bekal dan peralatan secukupnya untuk menginap di hutan mengingat sukarnya medan dan lamanya diperjalanan.  Bila kondisi fisik cukup kuat dan cuaca mendukung maka dimungkinkan perjalanan satu hari pulang pergi.

5. Terowongan Bekas Tambang Emas
          Salah satu objek ekowisata yang penting dan bersejarah adalah Terowongan Bekas Tambang Emas. Pada objek ini pengunjung dapat melakukan kegiatan lintas alam berkemah, pengamatan flora dan fauna dan fotografi. Dalam perjalanan menuju objek ini pengunjung dapat menikmati buah durian   pepohonan ini tumbuh menyebar di sekitar jalan treking.  
Seperti pertanyaan di awal tulisan ”mengapa daerah ini kurang dikunjungi” diantaranya adalah kurangnya promosi, kurangnya fasilitas pada tempat-tempat ekowisata dan kurangnya SDM yang ngurusin tempat yang luar biasa indahnya, pada hal   secara umum objek ekowisata di Pesisir Selatan cukup menakjubkan dan bervariasi dari mulai air terjun, treking memasuki hutan, wisata buah-buahan, wisata sungai, pengamatan flora dan fauna dan berkemah. Imbauan penulis ”Coba deh berkunjung ke ” Hidden Paradise” ini.   


















       






             
            
            
            

            
             
             
            
            
            

            
             
       






             
            
            
            

            

             

Minggu, 01 Desember 2013

Gunung Agung dan Bali Kecil di Sergai




  MELETUSNYA GUNUNG AGUNG
MENCIPTAKAN BALI KECIL
DI SERDANG BEDAGAI
           
Muhammad Ali, MLS

Pulau Bali dan Bung Karno demikian populernya bukan hanya dalam negeri tapi juga di mancanegara. Kalau kita berkunjung ke luar negeri kita bilang “Indonesia” langsung pikiran mereka “Soekarno” atau “Bali”.  Begitulah fenomenal keduanya. Untuk itu mari menelusuri Bali Kecil di Serdang Bedagai. 

Pada umumnya kota-kota di Indonesia selalu saja menyebut nama etnis mayoritas untuk sebutan suatu kampung, cara ini dianggap yang paling mudah mengetahui etnis mayoritas di kawasan itu. Kita ambil contoh  ada Kampung Madras, berarti di kampung itu banyak bermukim orang yang berasal dari Madras. Demikian juga daerah lain punya Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Bantan, Kampung Madura  dan kampung-kampung etnis lainnya. Maka di Serdang Bedagai tidak kalah penting, di sini ada kampung Bali. Ini yang terasa unik di Kabupaten Serdang Bedagai. Walaupun suku Bali tidak mayoritas di tempat itu tetapi keberadaan mereka cukup eksis sehingga membuat suasana kampung  bernuansa beda dari kampung-kampung sekitarnya, seperti cara mereka beribadat dengan memakai atribut khas Bali yang dirasa penduduk sekitar agak berbeda. Tetapi dalam segi pergaulan mereka tidak pernah merasa berbeda bahkan sangat akrab dengan penduduk etnis lain. Seperti diketahui Etnis Bali jarang atau tidaklah telalu banyak yang merantau ke pulau lain kalau dibandingkan denganorang Tapanuli atau Minangkabau. Kedatangan mereka ke Pegajahan ini sepertinya
perlu di ketahui dan menjadi catatan sejarah.
 
                                                                       
Letak Kampung Bali
.Kampung Bali  terletak di Kecamatan Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara dan berjarak kira-kira 13 km dari kota Perbaungan tepatnya di Dusun Harapan II B, Desa Pegajahan, yang letaknya berbatasan dengan Kecamatan Perbaungan dikelilingi oleh Perkebunan PTPN IV Adolina.  Di tempat ini sebagaimana tempat-tempat lain di Serdang Bedagai dihuni oleh bermacam-macam suku bangsa seperti, Minangkabau, Banjar, Batak, Melayu, Bali dan lainnya.  Untuk menuju ke kampung Bali tidaklah sukar karena jalanan sudah terbilang lumayan bagus dab beraspal. Dari Perbaungan ada pertigaan untuk menuju Kecamatan Pegajahan dan di Pinggir jalan sudah ada penunjuk arah untuk menuju Pura Bali.
Asal Muasal
Meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963 mengakibatkan penduduk sekitar harus di transmigrasikan atau dikirim ke pulau lain sebagai tenaga kontrak  karena 70 km2 kawasan sekitar Gunung Agung terkena dampak letusan.  Penduduk sekitar Gunung Agung yang akan diberangkatkan ke Luar Pulau Bali mendapat pilihan yaitu sebagai tenaga kontrak atau sebagai transmigran. Untuk transmigran akan di kirim ke Pulau Kalimantan dan Selawesi dan untuk tenaga kontrak akan di kirim ke Sumatera Utara. Maka sebagian etnis Bali yang sekarang di Pegajahan ini adalah tenaga kontrak selama 6 tahun bekerja di perkebunan rambung/ karet. Demikian waktu pun bergulir

mereka telah merasa sesuai dengan tempat ini maka mereka memperpanjang masa kontrak 6 tahun kedepan dan seterusnya.  Menurut dua orang narasumber yang penulis jumpai yaitu Bapak Nengah Sumadi Yasa berusia 67 tahun  dan Bapak Made Widya seorang kakek yang telah berumur 83 tahun dan pernah menjadi sopir pribadi Menteri Luar Negeri Repulik Indonesia era Bung Karno “Anak Agung Gde Agung”  yang menjabat dari tahun 1955-                                    
1956, Made Widya adalah sopir pribadi sang Menteri.  Kakek ini pun mengaku sangat dengat dekat dengan Bung Hatta.  Dan beliau adalah salah seorang diantara warga Bali yang di berangkatkan ke Sumatera Utara pada tahun 1963. Keberangkatannya ke Sumatera Utara tidak diketahui oleh mantan majikan dan kenalan lain di Jakarta. Saat itu ada 63 Kepala Keluarga Etnis Bali atau sekitar 200 an orang yang di berangkatkan langsung dari Bali ke Sumatera Utara tepatnya di Desa Pegajahan ini untuk dijadikan buruh pada perkebunan Karet.  Seandainya pada tahun-tahun itu telah ada telepon cellular mungkin sang Kakek tidak akan di jadikan kuli kontrak sampai ke Sumatera ini. Bisa saja beliau menelepon mantan majikannya untuk meminta kerja atau bantuan sekedarnya karena daerah beliau di Pulau Bali ludes terkena letusan gunung Agung. Pada saat peristiwa seperti inilah sistem komunikasi  seperti sekarang ini sangat berguna. 



 Etnis Bali yang berada di Pegajahan ini hidup berdampingan secara damai dengan etnis lainnya.  Seperti diketahui setiap kepercayaan memiliki rumah ibadah maka Etnis Bali perantauan ini sangat membutuhkan suatu tempat Ibadah. Maka pada tahun 1989, Ida Bagus Puja  menghibahkan
      
                                                     


tanah miliknya seluas 2 rantai ( 800 m2) untuk  didirikan sebuah Pura di dusun II B Pegajahan. Pembangunan pura ini dibantu oleh sejumlah warga Bali yang tersebar di beberapa wilayah di Sumatera Utara. Maka pada tahun 1989 berdirilah Pura ini. Pura yang diberi nama Pura Penataran Dharmaraksaka kemudian menjadi kebanggaan masyarakat mereka karena mereka sudah mempunyai tempat beribadah seperti Agama lain. Pura ini yang membuat mereka merasa Home berada di perantauan dan menjadikan mereka bisa berinteraksi satu sama lainnya.  Juga tidak jarang etnis Bali yang berada di daerah lain datang berkunjung ke Pegajahan ini untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudara sepulau.  



Pura ini ramai dikunjungi setidaknya dua kali sebulan oleh umat Hindu Bali untuk beribadah pada waktu purnama dan Tilem (bulan gelap). Upacara ini dipimpin oleh Pemangku I Wayan Gio. Karena komunitasnya yang kecil membuat warga Bali ini memiliki rasa kekeluargaan yang kental dengan saling mengunjungi warga Bali lainnya di luar Sergai. Diantara 63 KK yang datang ke Pegajahan ini ada beberapa orang penari Bali  sehingga pada saat itu sampai tahun 1980an mereka sering di undang untuk pertunjukan tari Bali di Medan. Beberapa tahun terakhir ini tarian Bali sudah boleh dikatakan punah di Pegajahan ini karena sang penari sudah menjadi nenek-nenek dan sangat disayangkan tidak ada penerus yang berminat untuk melanjutkan tarian tradisional ini. Tetapi kegiatan keagamaan tetap dilakukan sebagaimana aslinya di Bali.
Pura ini terbagi pada tiga bagian bangunan yaitu Utama (Kepala) ), Madya (Pinggang)  dan Nista (Kaki). Patung Saraswati yang terdapat di area utama pura ini dipercaya penerima ilmu pengetahuan sehingga umat hindu memohon melaluinya untuk mendapatkan pengetahuan. 



Mengenang keindahan pulau Bali dan keakraban sesama penduduk nya maka rindu kampung tak dapat terelakkan, karena itu sehabis kontrak dengan Perkebunan sebagian mereka ada yang pulang kampung. Saat ini Etnis Bali yang berada di Pegajahan hanya sekitar 8 Kepala Keluarga. Karena sebagian ada yang kembali ke daerah asal dan sebagian sudah kawin dengan penduduk setempat dan beralih agama.

Objek Wisata.
Menelusuri keadaan Kampung Bali ini penulis  merasa ada sesuatu keunikan yang tersimpan di dalamnya atau boleh di kiaskan ada harta karun di desa Pegajahan ini. Harta itu adalah budaya Bali yang masih kental yang bisa di poles untuk di jual menjadi suatu objek wisata budaya andalan Kabupaten Serdang Bedagai. Daerah ini bisa dijadikan Desa Wisata yang nantinya menuju Ecotourism Object (Objek Ekowisata). Di yakini dengan adanya program ekowisata maka pendapatan masyarakat akan meningkat karena ekowisata adalah wisata yang berbasis masyarakat (Community based Tourism).  Selain wisata budaya Daerah pegajahan juga sentra home industry seperti kerupuk Opak, Kerupuk Yeye dan bermacam-macam panganan dari ubi. Mari menikmati keindahan Serdang Bedagai dan merasakan berbagai kuliner mulai masakan Melayu, Minangkabau, Madura , Cina, India dan lainnya.




Taman Sari ( Tempat Pengambilan Air Secara Sakral)